Yuk Kepoin Fakta Menarik Tentang Bunga Melati

Fakta Bunga Melati
Yuk Kepoin Fakta Menarik Tentang Bunga Melati

Bunga melati merupakan salah satu tanaman yang termasuk ke dalam perdu atau kelompok pohon yang memiliki tinggi di bawah 6m. Melati memiliki bentuk batang yang tegak dan bisa tumbuh menahun dengan cara merambat.

Tanaman yang asalnya dari daerah yang beriklim tropis dan hangat dari Australasia, Eurasia dan Oseania. Melati sudah dibubidayakan secara luas sejak zaman dulu, sampai menjadi bunga yang memiliki aroma khas dari daerah tersebut.

Di negara kita, bunga ini dijuluki sebagai Puspa Bangsa atau menjadi simbol nasional. Jenis melatinya yaitu melati putih atau nama latinnya Jasminum sambac. Sebab dipercaya bahwa bunga ini menjadi simbol kemurnian dan kesucian.

Dan bahkan dihubungkan dengan berbagai macam tradisi dari banyak suku yang ada di Indonesia. Dalam upara pernikahan yang mengusung tradisi contohnya, bunga ini seakan wajib hadir. Tak hanya satu suku saja, namun di banyak suku. Terutama di suku Jawa dan suku Sunda. Tak bisa dipungkiri, nama bunga melati sangat populer sekali di Indonesia.

* Ayo bergabung di Fanpage kami “Pertanian & Perkebunan” agar selalu dapat info terkini tentang dunia pertanian, silahkan klik DISINI

Di balik kepopuleran dan banyak fungsinya, apa Anda tahu fakta bunga melati yang lainnya? Apabila ingin tahu lebih banyak mengenai bunga melati, simak ulasan berikut ini.

Masih Satu Famili Dengan Zaitun

Bunga melati termasuk famili Oleaceae yang masih satu famili dengan zaitun. Akan tetapi, berbeda dengan keluarga Oleaceae lain, melati umumnya mempunyai 4-9 kelopak. Bukan hanya itu, melati juga tergolong tumbuhan semak yang tingginya bisa mencapai 4,5 meter. Melati yang merambat bisa mencapai 9m.

Melati mampu hidup di daerah yang mempunyai tingkat kesuburan sedang dengan drainase baik. Tanaman ini bisa bertahan hidup selama 15-20 tahun di alam liar. Tetapi, melati sudah banyak dibudidayakan dan dijadikan tanaman hias. Dengan demikian, bila dirawat dengan tepat, melati akan lebih produktif dan usianya lebih panjang.

Baca Juga:
Budidaya Tanaman Cabai Merah Dengan Inovasi Cut Back, Mau Tau Caranya?
Dibalik Cita Rasa Yang Nikmat, Ternyata Ini Rahasia Para Petani Kopi!
Ingin Sukses Saat Budidaya Cengkeh, Yuk Intip Cara Pembibitannya!

Terdiri Atas Ratusan Spesies

Hingga sekarang sudah diketahui sekitar 200 spesies bunga melati. Beberapa besar bagian spesiesnya berwarna putih dan kuning, namun juga ada yang berwarna merah muda. Adapun sebagian spesies yang terkenal, yaitu Jasminum officinale dan Jasminum grandiflorum. Jenis melati lainnya yaitu Carolina Jasmine yang beracun. Akan tetapi, akarnya bila sudah kering bisa dimanfaatkan untuk obat penenang.

Dapat Berbuah

Sebagian jenis melati bisa berbuah dengan bentuk bulat dan berwarna hitam bila sudah matang, akan berwarna hijau jika masih mentah. Bunga melati tak bisa melakukan penyerbukan sendiri, meski mempunyai putik dan benang sari. Karena, keduanya berkembang pada saat yang berbeda jadi dibutuhkan bantuan lebah atau kupu-kupu untuk melaksanakan penyerbukan.

Keharuman yang Menjadikannya “Ratu Malam”

Di daerah tropis, bunga melati bisa mekar sepanjang waktu. Tetapi, di daerah subtropis umumnya akan mekar dan berbau harum selama musim panas dan musim semi. Dan uniknya, bau melati akan lebih kuat ketika malam hari. Hal tersebut diakibatkan oleh turunnya temperatur udara jadi memicu pemekaran dan pelepasan aromanya yang harum. Bahkan, di India dijuluki sebagai “Ratu Malam”.

Sebagai Bahan Dasar Aneka Produk

Bunga ini mempunyai beberapa manfaat untuk tubuh, salah satunya kandungan anti-inflamasi dan anti-oksidan yang mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Anda bisa merasakannya sesudah mengonsumsi teh yang dicampur dengan melati. Manfaat lainnya, yaitu aroma dari minyak atsiri yang bisa mengurangi stres serta masih banyak lagi. Tak hanya manfaat di atas, melati juga dipakai dalam produk kecantikan seperti perawatan kulit dan wajah.

Bermakna di Berbagai Negara

Ternyata melati tak hanya menjadi bunga nasional Indonesia. Negara Pakistan juga menjadikan Jasminum officinale sebagai bunga nasional. Sementara, masyarakat Thailand menjadikan melati sebagai simbol untuk cinta dan kehormatan. Berbeda lagi dengan Tiongkok yang mengartikan melati sebagai kebahagiaan, kasih sayang, dan keagungan.

Negara Indonesia sendiri menjadikan Jasminum sambac ini sebagai bunga nasional. Suku Jawa, Sunda sampai Bugis juga menjadikan melati sebagai aksesoris mempelai ketika pernikahan atau upacara adat. Karena, bunga melati dimaknai sebagai ketulusan hati setiap perkataan dan perbuatan. Bisa saja setiap suku berbeda-beda dalam memaknai melati.

Bagi Anda yang sedang memerlukan Paranet untuk proses budidaya, kami menyediakan dan melayani pemesanan Plastik Pertanian dan Perkebunan dengan harga murah serta bahan yang berkualitas. Info harga produk klik DISINI dan pemesanan silakan hubungi kami melalui SMS/WA/CALL pada hari dan jam kerja pukul 08.00-16.00 WIB (Minggu dan Hari Besar TUTUP) di 0812.3258.4950 | 0877.0282.1277 | 0852.3392.5564 | 031–8830487
Atau chat Admin kami dengan klik salah satu link berikut:
http://bit.ly/AdminLC1
http://bit.ly/AdminLC2
http://bit.ly/AdminLC3

Budidaya Tanaman Cabai Merah Dengan Inovasi Cut Back, Mau Tau Caranya?

Budidaya Cabai Merah
Budidaya Tanaman Cabai Merah Dengan Inovasi Cut Back, Mau Tau Caranya?

Jual Jaring Paranet Untuk Budidaya Tanaman – Lim Corporation

Umumnya umur tanaman cabe besar hanya bertahan sekitar 8 – 12 bulan dan sesudah itu mulai mengering dan mati. Serta produktivitasnya, semakin tua umur batang cabe, akan semakin berkurang produktivitas dan kualitas buahnya. Jika kondisinya sudah demikian, umumnya petani kemudian mencabut batang-batang cabe yang sudah tak produktif tersebut setelah itu menggantinya dengan tanaman baru untuk kelanjutan usaha tani atau budidaya mereka.

Tetapi jangan buru-buru untuk memusnahkan batang-batang cabe yang sudah tak produktif itu, sebab ternyata batang-batang cabe yang sudah tua itu masih bisa dimudakan dan diberdayakan kembali tanpa harus menanam bibit baru. Sebuah inovasi sudah berhasil dicoba oleh para penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Linge. Dalam lahan percontohan BPP seluas hampir 2 hektar ini memang sudah lama dikelola dan dimanfaatkan untuk lahan budidaya cabe. Dari hasil budidaya cabe tersebut, Kepala BPP Linge, sudah bisa membantu meningkatkan kesejahteraan para penyuluh pertanian yang dipimpinnya, apalagi dalam setahun terakhir, harga cabe cukup tinggi.

Dengan pola budidaya organik, Safrin dan kawan-kawan nyaris mampu menanam cabe sepanjang tahun, sebab pemakaian material organik dalam budidaya cabe ternyata lebih resistan pada perubahan cuaca ataupun serangan hama dan penyakit tanaman. Di awal tahun 2016 yang lalu, para penyuluh ini kembali menanam cabe untuk yang kesekian kalinya, dan seperti sebelumnya, hasil yang mereka peroleh juga sangat memuaskan, walaupun curah hujan selama tahun 2016 tergolong minim.

Hasil panen yang cukup bagus ditambah harga cabe yang terus melambung di pasaran, menjadi berkah tersendiri bagi Safrin dan kawan-kawan. Pedasnya harga cabe, justru terasa manis bagi para penyuluh tersebut, mereka mampu menikmati hasil panen cabe untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Wajar jika akhirnya para penyuluh ini betah bertahan di BPP ini, sebab kesejahteraan mereka sangat diperhatikan oleh pimpinan mereka.

* Ayo bergabung di Fanpage kami “Pertanian & Perkebunan” agar selalu dapat info terkini tentang dunia pertanian, silahkan klik DISINI

Menjelang akhir tahun 2016, produktivitas tanaman cabe mereka mulai menurun sesudah lebih 15 kali dipanen, mereka juga sudah berencana untuk mengganti tanaman tua itu dengan tanaman baru. Namun kemudian Safrin punya ide untuk mencoba sistem baru dalam budidaya cabe mereka tanpa harus menanam kembali bibit cabe baru. Ide itu muncul ketika dia mengamati tanaman cabenya, walau daun dan rantingnya sudah mulai mengering, tetapi Safrin melihat, batang cabe itu masih terlihat hijau dan perakarannya juga masih kuat. Kemudian dia menerapkan sistem Cut Back, yaitu memotong sebagian besar tanaman dan hanya menyisakan batang setinggi 10cm – 15cm dari permukaan tanah. Bekas potongan batang yang tersisa itu kemudian ditutup dengan plastik, dan dia kembali memberikan pupuk dasar berupa pupuk organik cair olahan mereka sendiri di lahan tersebut.

Tanpa disadari, inovasi baru dari sang Kepala BPP ini menunjukkan hasil yang sangat bagus, sehingga para penyuluh yang ikut mengelola lahan cabe selama ini semakin antusias dengan ide sang pimpinan. Dirangsang oleh pupuk dasar yang kembali diberikan pada lahan cabe itu, batang cabe yang bekas dipotong itu mulai mengeluarkan tunas-tunas baru yang pertumbuhannya sangat cepat. Safirin dan kawan-kawan kemudian memilih 2 atau 3 tunas baru yang pertumbuhannya paling bagus untuk dipertahankan sebagai batang baru, sementara yang lainnya dibuang. Sesudah tunas itu berubah menjadi batang baru dan mulai mengeluarkan cabang, kemudian mereka mulai memberikan pupuk susulan sebagaimana memberi pupuk pada tanaman baru.

Baca Juga:
Teknik Simpel Pembibitan Mawar, Salah Satu Tanaman Hias Terpopuler
Iniloh! Penghambat Pertumbuhan Saat Budidaya Jamur Tiram dan Cara Mengatasinya
Anda Wajib Tau! 10 Unsur Penerapan Teknologi Saat Budidaya Padi
Rahasia Meningkatkan Hasil Panen Dengan Teknik Rotasi Tanaman, Mau Coba?

Para penyuluh itu awalnya tidak terlalu yakin dengan inovasi dari Safrin, namun sesudah melihat perkembangan tanaman cabe dari hasil penerapan sistem cut back tersebut bisa berkembang sangat baik, itulah yang membuat mereka semakin yakin bahwa inovasi tersebut layak diterapkan untuk pola baru dalam budidaya cabe. Bahkan dengan sistem cut back yang diterapkan Safrin dan kawan-kawan itu, banyak keuntungan yang mereka peroleh, khususnya dalam menghemat biaya produksi yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi mereka. Dengan sistim cut back ini, mereka tak perlu lagi mengolah lahan, menyediakan dan menyemai bibit serta melaksanakan penanaman kembali, mereka cukup memberikan pupuk secukupnya dan melaksanakan perawatan tanaman. Dari sisi ini, wajar jika kemudian mereka menyebut sistim baru budidaya cabe mereka itu dengan sebutan paket hemat, karena dengan sistem cut back ini, mampu menekan biaya produksi sampai 70%.

Semangat Safrin dan kawan-kawan semakin tinggi, sebab hanya dalam waktu sekitar 2 bulan, tanaman cabe dengan sistem cut back yang diuji coba ini sudah mulai berbuah. Buah cabe dengan bentuk dan kualitas yang masih sama persis dengan tanaman awalnya, menunjukkan bahwa sistem ini juga bisa mempertahankan sifat genetik tanaman. Dan menjelang akhir bulan Januari 2017, disaat harga cabe masih relatif tinggi, para penyuluh itu sudah bisa menikmati hasil panen dari ujicoba yang baru pertama kali mereka laksanakan itu.

Pemanenan perdana itu memang belum banyak, hanya sekitar 200kg cabe merah, namun melihat masih banyaknya cabe hijau yang bergelantungan pada cabang tanaman serta bunga cabe yang terus bermunculan, mereka optimis, produktivitas tanaman cabe hasil cut back ini, tak kalah dengan hasil dari penanaman dari bibit baru, bahkan dengan pemupukan dan perawatan intensif, bisa jadi produktivitasnya bisa lebih tinggi.

Teknik unik yang diuji coba Safrin dan kawan-kawan itu, akhirnya menarik perhatian para petani di sekitar lokasi BPP Linge. Setiap hari selalu saja ada petani atau rombongan kelompok tani yang ingin melihat sekaligus belajar langsung sistem baru budidaya cabe ini. Dan dengan senang hati, Safrin dan kawan-kawan akan membagikan ilmu baru mereka itu pada para petani yang datang ketempat mereka, sebab itu memang sudah menjadi tugas dan kewajiban yang melakat pada diri mereka selaku penyuluh pertanian.

Apa yang sudah dilaksanakan Safrin, tentunya merupakan suatu inovasi dan terobosan baru yang sangat menguntungkan bila diterapkan oleh para petani. Dengan menekan biaya produksi, tentu usaha tani cabe semacam ini akan mampu memberikan penghasilan yang lebih tinggi bagi para petani. Saat ini bukan hanya, mempersilahkan para petani untuk melihat dan belajar langsung tentang sistem cut back ini, para penyuluh itu juga mulai mensosialisasikan temuan mereka itu pada para petani binaan mereka. Bukan hanya fokus pada kegiatan Upsus Pajale (Padi, Jagung dan Kedele), salah satu komoditi yang menjadi prioritas dalam pembinaan dan penyuluhan yang dilaksanakan oleh para penyuluh pertanian di kecamatan Linge ini merupakan komoditi cabe. Bukan tanpa alasan, jika mereka fokus pada komoditi ini, sebab selama ini harga cabe di daerah ini relative stabil dan cukup tinggi, ini bisa jadi potensi untuk meningkatkan kesejahteraan petani disana.

Demikian penjelasan mengenai artikel berjudul “Budidaya Tanaman Cabai Merah Dengan Inovasi Cut Back, Mau Tau Caranya?”. Semoga penjelasan artikel tersebut bisa bermanfaat bagi Anda.

Bagi Anda yang sedang memerlukan Paranet untuk proses budidaya, kami menyediakan dan melayani pemesanan Paranet dengan harga murah serta bahan yang berkualitas. Info harga produk dan pemesanan silakan hubungi kami melalui SMS/WA/CALL pada hari dan jam kerja pukul 08.00-16.00 WIB (Minggu dan Hari Besar TUTUP) di 0812.3258.4950 | 0877.0282.1277 | 0852.3392.5564 | 031–8830487
Atau chat Admin kami dengan klik salah satu link berikut:
http://bit.ly/AdminLC1
http://bit.ly/AdminLC2
http://bit.ly/AdminLC3