Budidaya Tanaman Cabai Merah Dengan Inovasi Cut Back, Mau Tau Caranya?

Budidaya Cabai Merah
Budidaya Tanaman Cabai Merah Dengan Inovasi Cut Back, Mau Tau Caranya?

Jual Jaring Paranet Untuk Budidaya Tanaman – Lim Corporation

Umumnya umur tanaman cabe besar hanya bertahan sekitar 8 – 12 bulan dan sesudah itu mulai mengering dan mati. Serta produktivitasnya, semakin tua umur batang cabe, akan semakin berkurang produktivitas dan kualitas buahnya. Jika kondisinya sudah demikian, umumnya petani kemudian mencabut batang-batang cabe yang sudah tak produktif tersebut setelah itu menggantinya dengan tanaman baru untuk kelanjutan usaha tani atau budidaya mereka.

Tetapi jangan buru-buru untuk memusnahkan batang-batang cabe yang sudah tak produktif itu, sebab ternyata batang-batang cabe yang sudah tua itu masih bisa dimudakan dan diberdayakan kembali tanpa harus menanam bibit baru. Sebuah inovasi sudah berhasil dicoba oleh para penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Linge. Dalam lahan percontohan BPP seluas hampir 2 hektar ini memang sudah lama dikelola dan dimanfaatkan untuk lahan budidaya cabe. Dari hasil budidaya cabe tersebut, Kepala BPP Linge, sudah bisa membantu meningkatkan kesejahteraan para penyuluh pertanian yang dipimpinnya, apalagi dalam setahun terakhir, harga cabe cukup tinggi.

Dengan pola budidaya organik, Safrin dan kawan-kawan nyaris mampu menanam cabe sepanjang tahun, sebab pemakaian material organik dalam budidaya cabe ternyata lebih resistan pada perubahan cuaca ataupun serangan hama dan penyakit tanaman. Di awal tahun 2016 yang lalu, para penyuluh ini kembali menanam cabe untuk yang kesekian kalinya, dan seperti sebelumnya, hasil yang mereka peroleh juga sangat memuaskan, walaupun curah hujan selama tahun 2016 tergolong minim.

Hasil panen yang cukup bagus ditambah harga cabe yang terus melambung di pasaran, menjadi berkah tersendiri bagi Safrin dan kawan-kawan. Pedasnya harga cabe, justru terasa manis bagi para penyuluh tersebut, mereka mampu menikmati hasil panen cabe untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Wajar jika akhirnya para penyuluh ini betah bertahan di BPP ini, sebab kesejahteraan mereka sangat diperhatikan oleh pimpinan mereka.

* Ayo bergabung di Fanpage kami “Pertanian & Perkebunan” agar selalu dapat info terkini tentang dunia pertanian, silahkan klik DISINI

Menjelang akhir tahun 2016, produktivitas tanaman cabe mereka mulai menurun sesudah lebih 15 kali dipanen, mereka juga sudah berencana untuk mengganti tanaman tua itu dengan tanaman baru. Namun kemudian Safrin punya ide untuk mencoba sistem baru dalam budidaya cabe mereka tanpa harus menanam kembali bibit cabe baru. Ide itu muncul ketika dia mengamati tanaman cabenya, walau daun dan rantingnya sudah mulai mengering, tetapi Safrin melihat, batang cabe itu masih terlihat hijau dan perakarannya juga masih kuat. Kemudian dia menerapkan sistem Cut Back, yaitu memotong sebagian besar tanaman dan hanya menyisakan batang setinggi 10cm – 15cm dari permukaan tanah. Bekas potongan batang yang tersisa itu kemudian ditutup dengan plastik, dan dia kembali memberikan pupuk dasar berupa pupuk organik cair olahan mereka sendiri di lahan tersebut.

Tanpa disadari, inovasi baru dari sang Kepala BPP ini menunjukkan hasil yang sangat bagus, sehingga para penyuluh yang ikut mengelola lahan cabe selama ini semakin antusias dengan ide sang pimpinan. Dirangsang oleh pupuk dasar yang kembali diberikan pada lahan cabe itu, batang cabe yang bekas dipotong itu mulai mengeluarkan tunas-tunas baru yang pertumbuhannya sangat cepat. Safirin dan kawan-kawan kemudian memilih 2 atau 3 tunas baru yang pertumbuhannya paling bagus untuk dipertahankan sebagai batang baru, sementara yang lainnya dibuang. Sesudah tunas itu berubah menjadi batang baru dan mulai mengeluarkan cabang, kemudian mereka mulai memberikan pupuk susulan sebagaimana memberi pupuk pada tanaman baru.

Baca Juga:
Teknik Simpel Pembibitan Mawar, Salah Satu Tanaman Hias Terpopuler
Iniloh! Penghambat Pertumbuhan Saat Budidaya Jamur Tiram dan Cara Mengatasinya
Anda Wajib Tau! 10 Unsur Penerapan Teknologi Saat Budidaya Padi
Rahasia Meningkatkan Hasil Panen Dengan Teknik Rotasi Tanaman, Mau Coba?

Para penyuluh itu awalnya tidak terlalu yakin dengan inovasi dari Safrin, namun sesudah melihat perkembangan tanaman cabe dari hasil penerapan sistem cut back tersebut bisa berkembang sangat baik, itulah yang membuat mereka semakin yakin bahwa inovasi tersebut layak diterapkan untuk pola baru dalam budidaya cabe. Bahkan dengan sistem cut back yang diterapkan Safrin dan kawan-kawan itu, banyak keuntungan yang mereka peroleh, khususnya dalam menghemat biaya produksi yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi mereka. Dengan sistim cut back ini, mereka tak perlu lagi mengolah lahan, menyediakan dan menyemai bibit serta melaksanakan penanaman kembali, mereka cukup memberikan pupuk secukupnya dan melaksanakan perawatan tanaman. Dari sisi ini, wajar jika kemudian mereka menyebut sistim baru budidaya cabe mereka itu dengan sebutan paket hemat, karena dengan sistem cut back ini, mampu menekan biaya produksi sampai 70%.

Semangat Safrin dan kawan-kawan semakin tinggi, sebab hanya dalam waktu sekitar 2 bulan, tanaman cabe dengan sistem cut back yang diuji coba ini sudah mulai berbuah. Buah cabe dengan bentuk dan kualitas yang masih sama persis dengan tanaman awalnya, menunjukkan bahwa sistem ini juga bisa mempertahankan sifat genetik tanaman. Dan menjelang akhir bulan Januari 2017, disaat harga cabe masih relatif tinggi, para penyuluh itu sudah bisa menikmati hasil panen dari ujicoba yang baru pertama kali mereka laksanakan itu.

Pemanenan perdana itu memang belum banyak, hanya sekitar 200kg cabe merah, namun melihat masih banyaknya cabe hijau yang bergelantungan pada cabang tanaman serta bunga cabe yang terus bermunculan, mereka optimis, produktivitas tanaman cabe hasil cut back ini, tak kalah dengan hasil dari penanaman dari bibit baru, bahkan dengan pemupukan dan perawatan intensif, bisa jadi produktivitasnya bisa lebih tinggi.

Teknik unik yang diuji coba Safrin dan kawan-kawan itu, akhirnya menarik perhatian para petani di sekitar lokasi BPP Linge. Setiap hari selalu saja ada petani atau rombongan kelompok tani yang ingin melihat sekaligus belajar langsung sistem baru budidaya cabe ini. Dan dengan senang hati, Safrin dan kawan-kawan akan membagikan ilmu baru mereka itu pada para petani yang datang ketempat mereka, sebab itu memang sudah menjadi tugas dan kewajiban yang melakat pada diri mereka selaku penyuluh pertanian.

Apa yang sudah dilaksanakan Safrin, tentunya merupakan suatu inovasi dan terobosan baru yang sangat menguntungkan bila diterapkan oleh para petani. Dengan menekan biaya produksi, tentu usaha tani cabe semacam ini akan mampu memberikan penghasilan yang lebih tinggi bagi para petani. Saat ini bukan hanya, mempersilahkan para petani untuk melihat dan belajar langsung tentang sistem cut back ini, para penyuluh itu juga mulai mensosialisasikan temuan mereka itu pada para petani binaan mereka. Bukan hanya fokus pada kegiatan Upsus Pajale (Padi, Jagung dan Kedele), salah satu komoditi yang menjadi prioritas dalam pembinaan dan penyuluhan yang dilaksanakan oleh para penyuluh pertanian di kecamatan Linge ini merupakan komoditi cabe. Bukan tanpa alasan, jika mereka fokus pada komoditi ini, sebab selama ini harga cabe di daerah ini relative stabil dan cukup tinggi, ini bisa jadi potensi untuk meningkatkan kesejahteraan petani disana.

Demikian penjelasan mengenai artikel berjudul “Budidaya Tanaman Cabai Merah Dengan Inovasi Cut Back, Mau Tau Caranya?”. Semoga penjelasan artikel tersebut bisa bermanfaat bagi Anda.

Bagi Anda yang sedang memerlukan Paranet untuk proses budidaya, kami menyediakan dan melayani pemesanan Paranet dengan harga murah serta bahan yang berkualitas. Info harga produk dan pemesanan silakan hubungi kami melalui SMS/WA/CALL pada hari dan jam kerja pukul 08.00-16.00 WIB (Minggu dan Hari Besar TUTUP) di 0812.3258.4950 | 0877.0282.1277 | 0852.3392.5564 | 031–8830487
Atau chat Admin kami dengan klik salah satu link berikut:
http://bit.ly/AdminLC1
http://bit.ly/AdminLC2
http://bit.ly/AdminLC3

Kurangnya Suplai Pada Pasar, Membuat Potensi Bisnis Kroto Sangat Menjanjikan

Potensi Budidaya Kroto

Jual Jaring Paranet Harga Murah – Lim Corporation

Tren memelihara burung kicau sudah lama menjadi salah satu gaya hidup masyarakat, baik itu di kota-kota besar ataupun di pedesaan. Dengan begitu, potensi bisnis kroto menjadi sangat menjanjikan. Harus diketahui, sudah sejak lama juga para pedagang menyaksikan konsumen yang berebut kroto di pasaran, berapa pun harga jualnya. Lantas, apa yang membuat kroto begitu istimewa?

Kroto adalah komoditas yang harga jualnya reatif stabil. Dalam berbagai daerah di Indonesia, harga kroto sekitar Rp150.000—Rp200.000 per kilogramnya, terutama ketika suplai berkurang. Dan daripada itu, di kota besar seperti Jakarta, harga jual pemburu ke pengepul bisa mencapai Rp100.000 per kilogram.

Harganya bahkan bisa melonjak sedemikian rupa sebab sarang yang dijual adalah sarang semut rangrang yang diambil dari alam tanpa dibudidayakan terlebih dulu. Faktor lingkungan, seperti cuaca atau musim mampu membawa pengaruh besar pada nilai ekonomi kroto. Sudah jadi siklus tahunan, setiap musim hujan tiba, kroto akan menjadi barang langka.

Apabila melihat faktor strategis, Indonesia merupakan negara tropis yang cocok dengan standar biologis semut rangrang. Pengembangan usaha budidaya semut rangrang tak membutuhkan tempat yang luas, modalnya tak mahal, dan tekniknya cukup sederhana. Budidaya semut rangrang juga tak membutuhkan bahan baku impor jadi pengadaan bahan baku tak bergantung pada kondisi nilai tukar rupiah.

Baca Juga:
Dibalik Rasa Manisnya, Ternyata Pepaya Menyimpan Ribuan Manfaat Untuk Tubuh
Perkembangan Pertanian Indoor Mengarah Pada Greenhouse Robotik, Penasaran?
Iniloh! 5 Perkembangan Teknologi Pertanian Di Masa Depan

Dicari Kicau Mania
Memelihara burung memang sangat mengasyikkan dan bisa mengurangi kepenatan, terlebih lagi apabila burung klangenan tersebut tergolong burung yang bagus dari segi warna, bentuk, dan suaranya. Akan tetapi, memelihara burung yang berkicau tak segampang yang Anda bayangkan. Apabila perawatannya tak optimal dan maksimal, dijamin burung kualitas juara kontes pun akan mengalami downgrade atau kembali menjadi burung bakalan.

Salah satu faktor penting dalam perawatan burung kicauan yaitu pakan. Burung kicauan tak akan bernyanyi riang tanpa asupan pakan tambahan atau pakan penunjang yang berprotein tinggi seperti jangkrik, ulat hongkong, dan kroto.

* Ayo bergabung di Fanpage kami “Pertanian & Perkebunan” agar selalu dapat info terkini tentang dunia pertanian, silahkan klik DISINI

Kroto sebagai pakan penunjang ini diyakini mampu memancing burung untuk lebih berkicau. Jenis kroto basah mempunyai kandungan nutrisi terbaik bila dibandingkan dengan jenis kroto yang lainnya.

Kondisi yang terjadi di lapangan, sekarang berapa pun harga kroto pasti diburu oleh kicau mania. Sebab, stok kroto di pasaran tak pernah mencukupi keperluan para konsumen. Hal ini terjadi karena suplai kroto masih diperoleh dari hasil perburuan alam. Kelangkaan inilah yang kemudian mengakibatkan melonjaknya harga kroto di pasaran.

* Info lengkap mengenai harga Paranet silakan klik http://bit.ly/hargaparanet

Bila Anda membutuhkan dan ingin memesan Paranet atau Plastik Pertanian & Perkebunan untuk peneduh tanaman atau untuk pelindung tanaman dari hama atau digunakan untuk yang lainnya dengan harga murah silakan Anda menghubungi kami melalui SMS/CALL/WA pada hari dan jam kerja (Minggu dan hari besar TUTUP)

Customer Service:
Telp: 031- 8830487 (Jam Kerja 08.00 – 16.00 WIB)
Mobile: 0877 0282 1277 / 0812 3258 4950 / 0852 3392 5564
Email: limcorporation2009@gmail.com
Atau chat langsung dengan admin klik salah satu tautan berikut:
http://bit.ly/AdminLC1
http://bit.ly/AdminLC2
http://bit.ly/AdminLC3